BATANG HARI,TJ – Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera VI bergerak menangani kekeringan yang mengancam areal persawahan Daerah Irigasi Rawa (DIR) Pasar Terusan, Kecamatan Muara Bulian, Kabupaten Batang Hari, Jambi. Upaya darurat melalui pemompaan air dilakukan untuk menyelamatkan tanaman padi yang masih berpotensi dipertahankan hingga panen.
Penanganan dimulai pada 3 September 2026 dengan memompa air dari Sungai Batanghari. Pada 1 Oktober, sumber air dari sumur bor milik Dinas Pertanian dimanfaatkan untuk mengairi lahan di titik berbeda. Pemantauan dan pemompaan kembali dilakukan pada 13–14 Oktober 2026, termasuk penyaluran air ke tiga titik persawahan yang membutuhkan pasokan tambahan.
Petani Desa Pasar Terusan, Tarmiji, mengatakan BWS Sumatera VI terus memantau kondisi lahan dan berupaya membantu petani menghadapi dampak kekeringan.
Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Pasar Terusan, Ardi, menjelaskan bahwa penanganan diprioritaskan pada sawah yang tanaman padinya masih berpeluang diselamatkan. Penentuan lokasi mempertimbangkan ketersediaan air, kondisi tanaman, jarak pemompaan, dan kebutuhan masing-masing lahan.
Selain langkah darurat, BWS Sumatera VI mendorong Pemerintah Kabupaten Batang Hari mengusulkan peningkatan infrastruktur DIR Pasar Terusan melalui Program Inpres Nomor 2 Tahun 2025 dengan mekanisme pengusulan melalui aplikasi SIPURI.
Rencana tersebut meliputi pembangunan sumur Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT), pembangunan dan rehabilitasi pintu air, serta normalisasi saluran irigasi untuk memperbaiki distribusi air.
Kepala Satuan Kerja Operasi dan Pemeliharaan BWS Sumatera VI, Daud, menegaskan bahwa pemompaan darurat perlu diikuti pembenahan sistem tata air agar kawasan persawahan lebih siap menghadapi musim kemarau.
Karena DIR Pasar Terusan merupakan kewenangan Pemerintah Kabupaten Batang Hari, pengusulan program perlu dilakukan oleh pemerintah daerah. BWS Sumatera VI siap memberikan dukungan koordinasi dan pendampingan teknis sesuai kewenangannya.
Meski bukan daerah irigasi kewenangan pemerintah pusat, BWS Sumatera VI tetap melakukan penanganan dan pemantauan bersama pihak terkait. Upaya tersebut diharapkan membantu petani mengurangi risiko gagal panen sekaligus meningkatkan ketahanan tata air di kawasan persawahan seluas 339 hektare itu.(*)







