JAMBI, TJ – Prestasi akademik dan sederet pencapaian di berbagai ajang menjadi bagian dari perjalanan Recha Oktaviani Safitri, mahasiswi asal Kabupaten Tanjung Jabung Barat yang dipercaya menyampaikan sambutan mewakili para lulusan pada Wisuda ke-V Universitas Baiturrahim.
Kepercayaan tersebut menjadi momen istimewa bagi Recha, yang berhasil menuntaskan pendidikan dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,92. Capaian itu sekaligus melengkapi rekam jejak prestasinya di tingkat daerah hingga nasional.
Sejumlah penghargaan pernah diraihnya, di antaranya predikat nilai terbaik dalam Lomba Paper pada 2023, Duta Genre Terfavorit Provinsi Jambi 2023, serta Juara II Lomba Karya Tulis Ilmiah yang diselenggarakan Ikatan Lembaga Mahasiswa Gizi Indonesia (ILMAGI) pada 2024.
Pada tahun yang sama, Recha juga dipercaya mewakili Universitas Baiturrahim dalam Pemilihan Mahasiswa Berprestasi tingkat Wilayah X di Bukittinggi. Ia turut menerima Beasiswa Pemerintah Provinsi Jambi sebagai bentuk dukungan terhadap mahasiswa berprestasi.
Namun, di balik pencapaian tersebut, Recha menegaskan bahwa perjalanan pendidikan bukan semata-mata tentang nilai akademik dan penghargaan. Baginya, wisuda merupakan titik awal untuk memasuki kehidupan baru dengan tanggung jawab yang lebih besar.
“ Hari ini bukan hanya menjadi penutup perjalanan sebagai mahasiswa, tetapi juga menjadi awal dari langkah-langkah baru yang akan kita tempuh,” ungkapnya di hadapan pimpinan universitas, dosen, orang tua, keluarga, serta seluruh wisudawan dan wisudawati.
Perjalanan Panjang di Balik Toga
Dalam sambutannya, Recha mengajak para lulusan mengenang kembali berbagai proses yang telah dilalui selama menempuh pendidikan tinggi.
Menurutnya, kebahagiaan mengenakan toga merupakan hasil dari perjalanan panjang yang tidak selalu berjalan mulus. Rasa lelah, kegagalan, hingga keinginan untuk menyerah menjadi bagian dari proses yang harus dihadapi.
Dukungan dosen, sahabat, dan keluarga, terutama orang tua, menjadi salah satu kekuatan yang membuat para mahasiswa mampu bertahan hingga menyelesaikan pendidikan.
“ Hari ini menjadi bukti bahwa tidak ada langkah yang sia-sia selama kita tidak berhenti melangkah,” tuturnya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat seseorang mencapai tujuan, tetapi juga oleh ketekunan dalam menghadapi berbagai tantangan.
Mengingat Peran Orang Tua
Salah satu bagian yang paling menyentuh dalam sambutan Recha adalah ungkapan terima kasihnya kepada orang tua. Ia menilai, dukungan keluarga memiliki arti besar dalam perjalanan meraih pendidikan dan prestasi.
Recha mengungkapkan bahwa orang tuanya tidak pernah menjadikan gelar juara sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan. Sebaliknya, ia dibesarkan dengan nilai kejujuran, tanggung jawab, serta keteguhan untuk tidak mudah menyerah.
“Mereka tidak selalu menuntut saya untuk menjadi yang paling unggul, karena yang lebih mereka khawatirkan bukan ketika saya gagal menjadi juara, melainkan ketika saya tidak baik-baik saja dalam menjalani perjalanan ini,” katanya.
Ia juga merefleksikan satu fase kehidupan yang tidak kalah berat, yakni ketika orang tua mulai memberikan kepercayaan kepada anak untuk menentukan arah hidupnya sendiri.
“Beban terberat justru ketika kedua tangan orang tua saya sudah tidak lagi menuntun saya, tetapi merenggang untuk melepaskan saya. Mereka tidak menekan sama sekali, mereka hanya mempercayakan seluruh hidup saya kepada saya,” ucap Recha.
Baginya, kepercayaan tersebut bukan berarti berkurangnya kasih sayang, melainkan bentuk dukungan yang mengajarkan kemandirian sekaligus tanggung jawab dalam mengambil keputusan.
Mengajak Lulusan Memberi Manfaat
Memasuki fase setelah wisuda, Recha menyadari bahwa setiap lulusan akan memiliki jalan dan pilihan yang berbeda. Sebagian akan memasuki dunia kerja, melanjutkan pendidikan, membangun usaha, atau berusaha menemukan peluang yang sesuai dengan cita-cita masing-masing.
Meski demikian, ia mengingatkan agar ilmu dan pengalaman yang diperoleh selama kuliah tidak hanya digunakan untuk mengejar keberhasilan pribadi.
Menurutnya, nilai pendidikan sesungguhnya juga tercermin dari kemampuan seseorang menerapkan pengetahuan, menjaga integritas, serta memberikan kontribusi positif bagi lingkungan dan masyarakat.
“Keberhasilan bukan hanya tentang mencapai impian pribadi. Keberhasilan adalah ketika kehadiran kita mampu memberi arti bagi kehidupan orang lain,” tegasnya.
Ia menambahkan, ilmu akan semakin bermakna ketika dibagikan, sementara kesuksesan memiliki nilai lebih besar apabila digunakan untuk membantu sesama dan memberikan pelayanan kepada masyarakat.
“Hidup akan menemukan tujuannya ketika kita menjadi alasan hadirnya harapan bagi sesama,” lanjutnya.
Dihadiri Pimpinan Universitas dan Civitas Akademika
Wisuda ke-V Universitas Baiturrahim tersebut turut dihadiri Rektor Universitas Baiturrahim Dr. Fillius Chandra, S.E., M.M., Ketua Senat Dr. Arifahrahmi, M.Keb., serta Kepala LLDIKTI Wilayah X.
Hadir pula Wakil Rektor I Ns. Hasyim Kadri, M.Kes., Wakil Rektor II Bidan Gustina, M.Keb., Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Bidan Julaecha, M.Keb., dan Dekan Fakultas Humaniora Dr. Rahimah, S.ST., M.Kes., AIFO.
Sejumlah ketua program studi, dosen, pejabat struktural di lingkungan Universitas Baiturrahim, orang tua dan keluarga, serta seluruh wisudawan dan wisudawati juga mengikuti prosesi tersebut.
Menutup sambutannya, Recha mengajak seluruh lulusan menyongsong masa depan dengan penuh keyakinan, tanpa melupakan nilai-nilai yang telah dipelajari selama berada di bangku kuliah.
Ia berharap para alumni Universitas Baiturrahim tidak hanya dikenal karena kecerdasan dan prestasinya, tetapi juga karena integritas, kepedulian, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.
“Selamat melangkah menuju babak kehidupan yang baru. Semoga suatu hari nanti, ketika nama Universitas Baiturrahim disebut, orang-orang tidak hanya mengenal kampus ini karena lulusannya yang cerdas, tetapi juga karena lulusannya yang berintegritas, berempati, dan membawa manfaat bagi masyarakat.” Sebut nya.
Bagi Recha Oktaviani Safitri dan seluruh lulusan, wisuda bukanlah akhir dari perjuangan. Momen tersebut menjadi awal untuk menerapkan ilmu, mengembangkan potensi, serta membuktikan bahwa keberhasilan pendidikan dapat memberikan dampak nyata bagi kehidupan orang lain.(*)








