TANJABBAR, TJ – Asap yang ditimbulkan dari aktivitas pembakaran tempurung kelapa di Kabupaten Tanjung Jabung Barat, khususnya di Kecamatan Tungkal Ilir, kian meresahkan masyarakat. Hampir setiap hari, warga di sejumlah kawasan harus menghirup kepulan asap yang diduga berasal dari proses pembakaran tempurung kelapa oleh pelaku usaha.
Kondisi tersebut dikhawatirkan mengancam kesehatan masyarakat, terutama anak-anak dan kelompok rentan. Selain mengganggu aktivitas sehari-hari, paparan asap dalam waktu yang lama dinilai berpotensi memicu gangguan pernapasan, termasuk Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Menanggapi persoalan tersebut, Bupati Tanjung Jabung Barat, Drs. H. Anwar Sadat, M.Ag., mengimbau para pelaku usaha agar mulai menggunakan drum pembakaran yang telah dimodifikasi sebagai solusi untuk mengurangi pencemaran udara.
Menurut Bupati, inovasi yang diperkenalkan oleh pihak kecamatan tersebut dirancang agar asap hasil pembakaran tidak langsung keluar ke udara sehingga dampaknya terhadap lingkungan dapat diminimalkan.
“Ada model inovasi yang sudah dibuat. Kami meminta kepada para pengusaha untuk menggunakan alat tersebut, yaitu drum yang sudah dimodifikasi. Dengan alat itu asap tidak keluar ke atas, sehingga lingkungannya tetap baik, tidak mengganggu masyarakat dan usahanya tetap bisa berjalan. Ini solusi yang sangat baik,” ujar Anwar Sadat.
Ia menegaskan, biaya pembuatan drum modifikasi tersebut relatif terjangkau sehingga tidak menjadi beban bagi para pelaku usaha.
“Silakan digunakan karena harganya cukup murah, tidak mahal. Yang terpenting tidak menimbulkan pencemaran lingkungan, apalagi dalam kondisi musim kemarau seperti sekarang,” katanya.
Bupati berharap seluruh pelaku usaha pembakaran tempurung kelapa dapat segera beralih menggunakan teknologi sederhana tersebut sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Di sisi lain, masyarakat berharap pemerintah tidak hanya mengimbau, tetapi juga melakukan pengawasan secara berkala terhadap aktivitas pembakaran tempurung kelapa yang masih menghasilkan asap pekat. Langkah tersebut dinilai penting agar kegiatan ekonomi tetap berjalan tanpa mengorbankan kualitas udara maupun kesehatan warga di sekitarnya.(*)
TANJABBAR, TJ – Asap yang ditimbulkan dari aktivitas pembakaran tempurung kelapa di Kabupaten Tanjung Jabung Barat, khususnya di Kecamatan Tungkal Ilir, kian meresahkan masyarakat. Hampir setiap hari, warga di sejumlah kawasan harus menghirup kepulan asap yang diduga berasal dari proses pembakaran tempurung kelapa oleh pelaku usaha.
Kondisi tersebut dikhawatirkan mengancam kesehatan masyarakat, terutama anak-anak dan kelompok rentan. Selain mengganggu aktivitas sehari-hari, paparan asap dalam waktu yang lama dinilai berpotensi memicu gangguan pernapasan, termasuk Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Menanggapi persoalan tersebut, Bupati Tanjung Jabung Barat, Drs. H. Anwar Sadat, M.Ag., mengimbau para pelaku usaha agar mulai menggunakan drum pembakaran yang telah dimodifikasi sebagai solusi untuk mengurangi pencemaran udara.
Menurut Bupati, inovasi yang diperkenalkan oleh pihak kecamatan tersebut dirancang agar asap hasil pembakaran tidak langsung keluar ke udara sehingga dampaknya terhadap lingkungan dapat diminimalkan.
“Ada model inovasi yang sudah dibuat. Kami meminta kepada para pengusaha untuk menggunakan alat tersebut, yaitu drum yang sudah dimodifikasi. Dengan alat itu asap tidak keluar ke atas, sehingga lingkungannya tetap baik, tidak mengganggu masyarakat dan usahanya tetap bisa berjalan. Ini solusi yang sangat baik,” ujar Anwar Sadat.
Ia menegaskan, biaya pembuatan drum modifikasi tersebut relatif terjangkau sehingga tidak menjadi beban bagi para pelaku usaha.
“Silakan digunakan karena harganya cukup murah, tidak mahal. Yang terpenting tidak menimbulkan pencemaran lingkungan, apalagi dalam kondisi musim kemarau seperti sekarang,” katanya.
Bupati berharap seluruh pelaku usaha pembakaran tempurung kelapa dapat segera beralih menggunakan teknologi sederhana tersebut sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Di sisi lain, masyarakat berharap pemerintah tidak hanya mengimbau, tetapi juga melakukan pengawasan secara berkala terhadap aktivitas pembakaran tempurung kelapa yang masih menghasilkan asap pekat. Langkah tersebut dinilai penting agar kegiatan ekonomi tetap berjalan tanpa mengorbankan kualitas udara maupun kesehatan warga di sekitarnya.(*)









